Nasional | Tanggal Cetak : 2013-03-07
Militan Sulu-Moro Siapkan Serangan Balasan
Dibaca: 697

Malaysia larang pers asing masuk ke wilayah konflik.

LAHAD DATU - Sepanjang Rabu (6/3) hampir tidak ada kontak senjata di Lahad Datu, Semporna, dan Kunak di Pantai Timur Sabah, Malaysia Timur. Pihak keamanan Malaysia menghentikan sementara ope­rasi besar-besaran militer yang mulai dipertanyakan internasional. Juru bicara Kesultanan Sulu, Abraham Idjrani me­ngutip pemimpin Kesultanan Sulu, Adjimudie Kiram, yang berada di Desa Tanduo, Lahad Datu dalam keadaan sehat walafiat, mengatakan, Kamis (7/3), pasukan Sulu dibantu pasukan dari kelompok muslim Moro akan melakukan sera­ngan balasan. Ia membantah pihaknya kocar-kacir karena serangan tentara Malaysia.
”Foto-foto yang dilansir dalam jumpa pers Mendagri dan Menhan Malaysia adalah foto propaganda Malaysia, me­ngenai korban jatuh di pihak tentara Kesultanan Sulu,” kata Idjrani, Kamis.
Ia mempertanyakan ke­piawai­an Malaysia berperang. Untuk menghancurkan kekuatan Kesultanan Sulu yang didukung 400 sipil bersenjata bangsa Moro dari Selatan Filipina saja, menurut Idjrani, Malaysia harus mengerahkan angkatan udara, komando bersama polisi, dan militer. Padahal pemerintah Malaysia menyebut Sulu bersenjata sebagai “penjenayah” (penjahat) dalam negeri.
Wartawan asing kesulitan masuk lokasi dan terpaksa memonitor perkembangan konflik di Lahad Datu dari laporan masyarakat yang jadi menjadi saksi mata di  Lahad Datu, Semporna, dan Kunak.
Menurut laporan saksi mata, situasi di lokasi konflik saat ini masih tenang, meski satuan tank dan artileri ringan tentara darat Diraja Malaysia terus mengepung Lahad Datu dan Semporna. Pasukan Malaysia diperkuat oleh sedikitnya 10 batalion polisi dan tentara yang didatangkan dari Kota Kinabalu, Kuching Sarawak,dan Semenanjung. Mereka menyisir seluruh pantai Lahad Datu, di tepi Laut Sulu yang berbatasan de­ngan  wilayah Selatan Filipina. Namun tidak satu pun pesawat tempur jenis Sky Hawk F-18 atau pesawat siluman tanpa awak yang  mengudara.
Padahal Selasa (5/3) sebelumnya, delapan pesawat tempur F-18 dan Sky Hawk diterbangkan dari pangkalan Labuan dan Penang Semenanjung oleh angkatan udara Diraja Malaysia, meraung-raung di angkasa Sabah, memborbardir seluruh sasaran, diduga terkonsentra­sinya pejuang Kesultanan Sulu, terutama di Lahad Datu.
Di Lahad Datu,  Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishamuddin Husein dan Menteri Perta­hanan Malaysia Achmad Zahid Hamidi melaksanakan konferensi pers, sekaligus membeberkan hasil gempuran pihak keamanan dari darat dan udara. Kedua menteri tersebut juga menunjukkan sejumlah foto korban tewas tentara Sulu, serta memperlihatkan foto empat orang sipil yang disebut sebagai tersangka “penceroboh” kesultanan Sulu yang tertangkap di Desa Tanduo, Lahad Datu.  
Pemerintah Malaysia mela­rang peliputan pers di Lahad Datu dan Semporna, dengan alasan keamanan. Sementara itu, sumber SH di kamp Clark, Filipina mengabarkan bahwa ancaman pemimpin MNLF Nur Misauri bukanlah “gertak sambal”.  
Di perbatasan, pasukan pemerintah Filipina, sebagaimana diberitakan The Philippine Star, sudah melakukan pencegahan pengerahan militan Moro. Namun diperkirakan  sedikitnya 70 orang pengikut kesultanan Sulu tiba di Bongao, rencananya menyeberang ke Sabah melalui jalan laut. Bo­ngao adalah sebuah kota kecil  di wilayah Tawi-Tawi, Filipina, hanya sekitar 150 km di timur Lahad Datu.
Dalam wawancara di kediamannya di Kampung Maharlika Taguig City, Sultan Jamalul Kiram mengatakan, bukan warga Sulu saja yang  memberi perhatian terhadap kasus di Lahad Datu. Warga Tausu dan keturunannya, seperti subetnis Yakan serta Sama bersiap-siap akan menuju ke Sabah, bila ada kesempatan menyeberang Laut Sulu. (Bernama/The Inquirer/Rikando Somba)


()
Reporter: Sofyan Asnawie